Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2015

Jogjakarta (akhirnya)

.....akhir Mei 2015

Aku tiba-tiba terjaga ketika merasakan pesawat yang kutumpangi melindas awan padat di bawah sana. Aku mengusap kepalaku yang terantuk lalu melirik pada jam tangan sembari berpikir, sudah berapa lama aku tertidur.

Pukul sebelas lewat empat menit kala itu. Artinya aku sudah tertidur selama 1 jam sejak pantatku mendarat mulus di bangku paling pojok. Rasa-rasanya aku juga melewatkan snack yang diberikan Pramugari. Masih ada waktu 15 menit lagi sebelum akhirnya kakiku benar-benar mendarat di Kota itu.

Aku mengarahkan pandanganku ke luar sembari menguyah roti yang dibekalkan Nona Pramugari. Tidak ada apa-apa di luar sana. Hanya bayangan putih seperti asap. Aku baru tersadar, kami sedang berada di dalam awan dan melindas bongkahan es. Entahlah, tiba-tiba aku memikirkan Kumulonimbus. Aku melirik penumpang di sampingku. Lagi-lagi aku baru tersadar, ia sedang merapalkan doa-doa sejak tadi. 

Tanganku bergerak cepat menghidupkan kamera yang tergantung di leherku lalu menghidupkan tombol ON kemudian merekam kejadian di luar sana. Entah awan apa yang sedang kami masuki ini, tapi sepertinya memang tidak enak berada di dalam sana. Agak sedikit terlambat sih, tapi aku sempat mengabadikan momen itu sampai akhirnya aku melihat sebuah garis di lurus di bawah sana lama kelamaan menjadi jelas dan rumah penduduk menjadi semakin kelihatan. 

Aku tersenyum sekilas, mungkinkah itu Pantai Selatan? Dadaku bergemuruh tiba-tiba. Ada sengatan yang memacu adrenalinku untuk segera turun dan berlari ke luar sana. 

Pesawat akhirnya mendarat dengan mulus tepat pukul 11:20 di Bandara Adi Sucipto. Aku menyabarkan hatiku untuk tak terburu-buru meski rasanya ingin meledak melihat orang-orang di depan sana bergerak lambat. Sudahlah, aku di sini akhirnya. Ucapan selamat datang menyapaku dengan ramah. Aku berkali-kali mengabadikannya dengan tak henti mengembangkan senyum. Ransel di punggungku seolah ringan meski kini langkahku mulai dipercepat. Tidak sabar ke luar dan merasakan ramahnya Kota Gudeg. 

Di depan pintu, aku agak sedikit kecewa. Tidak ada ucapan selamat datang di sana dengan kertas besar-besar. Padahal aku sudah mewanti-wantinya untuk menyambutku di sana. Namun melihat senyuman dan lengannya yang mengembang, aku tak memperdulikan lagi dengan tulisan itu. Segera aku memburunya dan menyeruak ke dalam pelukannya.

"Welcome to Jogja, De." bisiknya sembari tertawa.

Iya. Akhirnya aku di sini. Datang ke Kotamu. 

Jogjakarta.





Senin, 13 Januari 2014

semoga bukan ucapan selamat tinggal

http://weheartit.com/

Pagi ini pukul setengah delapan, suratmu akhirnya sampai di hadapanku. Hanya selembar dan beberapa baris kalimat.

Dear De,

Jogja akan selalu menunggumu. Entah kapan kamu ke sini. Dan meski tanpa ada aku, kamu pasti akan menikmatinya.
Jo.


Ada sesuatu yang menyesak di dadaku tiba-tiba. Aku merasa, kamu sudah tidak akan ada lagi di sana.


Jumat, 11 Maret 2011

Letter to Mars





Dear Mars,
Gw mau curhat nih. Sebenarnya bukan ttg gw. Tapi sahabat gw Bee dan Belalank. Dua makhluk itu memang aneh. Diam-diam (mencoba) saling membenci. Gw yg terlalu sok tahu, atau mereka yg pura2 tidak tahu?

Gw bisa lihat bentuk hatinya yg aneh itu, Mars. Lengannya bersayap seperti kunang-kunang. Warnanya pun jg aneh. Bukan Pink melainkan Jingga. Hatikah itu namanya? Memang aneh kelihatannya. Tapi cahayanya tetap sama seperti kunang2 lainnya. Berpendar menerangi malam.

Tapi, Mars. Kedua makhluk itu memang bodoh. Ia tidak dapat melihat meski dlm jarak yg begitu dekat. Ha-ha. Gw benar2 gak ngerti sama jalan pikirannya. Yg gw tahu, kisah dari duo Arthopoda itu benar2 menyentuh. It's like a fairy tale. 

Apa kamu ingin membacanya, Mars? OK. Nanti gw kirimkan. Tapi janji untuk tidak menceritakannya pada Venus. Nanti dia iri... 


Love,
De



Senin, 28 Februari 2011

I miss you, but i never told you

Hey...Tiba-tiba saja aku merindukan kamu, sang Fajar Dirgantara. Namun aku tidak tahu bagaimana menyampaikan rasa ini padamu. Kamu telah pergi. Tidak lagi tergapai angan. Kubilang, kamu sudah menjadi bintang nun jauh disana. Entahlah kamu bisa merasakannya atau tidak. Aku tidak pernah tahu jawabannya. 


I really miss you, dear. But, i never told you what I should have said. 
I really miss you...
so, I send you this song. I wish you can hear what I feel now...





I miss those blue eyes, how you kiss me at night
I miss the way we sleep
Like there's no sunrise, like the taste of your smile
I miss the way we breathe


But I never told you what I should have said
No, I never told you, I just held it in


And now I miss everything about you
(Still, you're gone)
I can't believe it, I still want you
(And I'm lovin' you, I never should've walked away)
After all the things we've been through
(I know it's never gonna come again)
I miss everything about you, without you


I see your blue eyes every time I close mine
You make it hard to see
Where I belong to, when I'm not around you
It's like I'm not with me




For  My Fajar Dirgantara