Kamis, 21 Juli 2016
Selasa, 12 April 2016
kamu
Sejak bersamamu, aku menjadi orang yang pelupa. Aku tak lagi peduli dengan tanggal kapan kita mulai memutuskan bersama. Karena aku berharap kita akan selamanya. Membuat cerita-cerita terbaik bersama. Tak perlu tanggal, yang kita butuhkan hanya berjalan bersama.
Sejak bersamamu, aku belajar menyimpan amarah. Membunuh ego yang kadang-kadang tak tentu arah. Aku belajar tentang rasa sabar yang tidak mudah.
Iya, kupikir kita akan selamanya.
Namun ketika kau melepaskanku hari ini, aku berharap untuk mengingatmu lebih banyak lagi.
Rabu, 27 Januari 2016
tentangmu
Sejak mengenalmu,
yang inginkan hanya satu,
tetap percaya meski kadang terasa berat.
Sejak bersamamu,
yang kuharapkan tak muluk-muluk,
tetap bertahan meski kadang terasa lelah.
Sejak melepasmu,
yang kulakukan tak perlu kau tahu,
meski banyak doa kurapalkan agar kau selalu bahagia.
Padahal kau tidak tahu,
aku menyembunyikanmu namamu dari duniaku,
agar kau tetap menjadi rahasia aku dan Tuhan saja,
agar cerita kita cukup menjadi pengantar tidur saja bagi anak-anak kita kelak,
agar kau tetap menjadi nyata.
Begitulah kamu bagi diriku.
Berarti...

yang inginkan hanya satu,
tetap percaya meski kadang terasa berat.
Sejak bersamamu,
yang kuharapkan tak muluk-muluk,
tetap bertahan meski kadang terasa lelah.
Sejak melepasmu,
yang kulakukan tak perlu kau tahu,
meski banyak doa kurapalkan agar kau selalu bahagia.
Padahal kau tidak tahu,
aku menyembunyikanmu namamu dari duniaku,
agar kau tetap menjadi rahasia aku dan Tuhan saja,
agar cerita kita cukup menjadi pengantar tidur saja bagi anak-anak kita kelak,
agar kau tetap menjadi nyata.
Begitulah kamu bagi diriku.
Berarti...
Kamis, 10 Desember 2015
Rabu, 25 November 2015
dan kamu
kau datang dengan cara berbeda,
senyap,
nyaris tak berasa,
lalu perlahan terlihat hingga aku mampu merasakan hadirmu,
tak berapa lama kau pun pergi,
dengan hening,
hingga mencabut paksa semua rasa yang aku punya,
kau meninggalkan perih,
sesak,
dan kosong,
aku tahu, aku sekarat,
namun tidak mati,
ya, lihat saja, esok aku akan berdiri lagi,
dan siap untuk jatuh cinta lagi,
mungkin,
padamu,
lagi.
Senin, 16 November 2015
Kamis, 13 Agustus 2015
Jogjakarta (akhirnya)
.....akhir Mei 2015

Aku tiba-tiba terjaga ketika merasakan pesawat yang kutumpangi melindas awan padat di bawah sana. Aku mengusap kepalaku yang terantuk lalu melirik pada jam tangan sembari berpikir, sudah berapa lama aku tertidur.
Pukul sebelas lewat empat menit kala itu. Artinya aku sudah tertidur selama 1 jam sejak pantatku mendarat mulus di bangku paling pojok. Rasa-rasanya aku juga melewatkan snack yang diberikan Pramugari. Masih ada waktu 15 menit lagi sebelum akhirnya kakiku benar-benar mendarat di Kota itu.
Aku mengarahkan pandanganku ke luar sembari menguyah roti yang dibekalkan Nona Pramugari. Tidak ada apa-apa di luar sana. Hanya bayangan putih seperti asap. Aku baru tersadar, kami sedang berada di dalam awan dan melindas bongkahan es. Entahlah, tiba-tiba aku memikirkan Kumulonimbus. Aku melirik penumpang di sampingku. Lagi-lagi aku baru tersadar, ia sedang merapalkan doa-doa sejak tadi.
Tanganku bergerak cepat menghidupkan kamera yang tergantung di leherku lalu menghidupkan tombol ON kemudian merekam kejadian di luar sana. Entah awan apa yang sedang kami masuki ini, tapi sepertinya memang tidak enak berada di dalam sana. Agak sedikit terlambat sih, tapi aku sempat mengabadikan momen itu sampai akhirnya aku melihat sebuah garis di lurus di bawah sana lama kelamaan menjadi jelas dan rumah penduduk menjadi semakin kelihatan.
Aku tersenyum sekilas, mungkinkah itu Pantai Selatan? Dadaku bergemuruh tiba-tiba. Ada sengatan yang memacu adrenalinku untuk segera turun dan berlari ke luar sana.
Pesawat akhirnya mendarat dengan mulus tepat pukul 11:20 di Bandara Adi Sucipto. Aku menyabarkan hatiku untuk tak terburu-buru meski rasanya ingin meledak melihat orang-orang di depan sana bergerak lambat. Sudahlah, aku di sini akhirnya. Ucapan selamat datang menyapaku dengan ramah. Aku berkali-kali mengabadikannya dengan tak henti mengembangkan senyum. Ransel di punggungku seolah ringan meski kini langkahku mulai dipercepat. Tidak sabar ke luar dan merasakan ramahnya Kota Gudeg.
Di depan pintu, aku agak sedikit kecewa. Tidak ada ucapan selamat datang di sana dengan kertas besar-besar. Padahal aku sudah mewanti-wantinya untuk menyambutku di sana. Namun melihat senyuman dan lengannya yang mengembang, aku tak memperdulikan lagi dengan tulisan itu. Segera aku memburunya dan menyeruak ke dalam pelukannya.
"Welcome to Jogja, De." bisiknya sembari tertawa.
Iya. Akhirnya aku di sini. Datang ke Kotamu.
Jogjakarta.
Percakapan Hati
Sudah satu jam ia duduk di dekat jendela itu. Memandang ke luar dari tingkap yang terbuka pada pepohonan yang mulai meranggas di halaman. Mendung luruh di wajahnya. Namun ia tetap tenang meski badai berkecamuk di dadanya.
Ada yang tidak biasa dari tenangnya kali. Tenang yang dipaksakan. Tenang dengan kekosongan.
Ia mencoba menarik bibirnya berkali-kali. Memaksanya membentuk sebuah senyuman. Berharap senyum itu tidak pergi begitu saja dengan mudahnya.
"Apa yang salah perihal semalam?" tanya batinnya berontak. Pertanyaan yang sama sudah berkali-kali ia lontarkan namun tak bertemu jawaban yang melegakan.
"Tidak ada yang salah." Bibirnya mencoba menenangkan meski ia tahu, itu hanya kebohongan belaka.
"Aku akan baik-baik saja." bisiknya lirih. "Kau tidak bisa memaksa seseorang memberimu bahagia jika kau tidak bisa membahagiakan dirimu sendiri, kan?"
"Apa kau perlu memelihara perih hanya karena egois?" batinnya bertanya lagi.
"Kadang memang perlu, kan?" jawabnya putus asa.
"Tidak. Tidak perlu. Kau harus berdamai denganku. Aku yang harus kau ikuti ketika kau merasa putus asa. Aku yang akan menunjukimu jalan." bujuk hatinya lembut.
"Lalu, kau akan mengajakku kemana?"
"Pejamkan matamu. Aku akan membawamu kepadanya. Kepada debar yang kau rasa ketika bertemu dengannya pertama kali. Kepada senyum yang tak perlu kau tarik paksa saat ia berkata-kata. Kepada bahagia yang tak bisa kau sembunyikan meski hanya diam duduk bersamanya. Kau hanya perlu mengingatnya. Dengan begitu kau akan tahu, perasaanmu belum habis."
"Lalu apa yang harus kulakukan?" kali ini ia mulai terisak.
"Bilang padanya. Kau hanya perlu jujur. Perihal ia mengacuhkanmu, biarkan saja. Kau hanya perlu melegakan dirimu sendiri. Setelah itu, kau bisa menikmati bahagiamu sendiri."
"Apa ia akan mendengarkan?"
"Entahlah. Aku tidak bisa menjamin. Tapi semoga saja."
"Tak bisakah tetap diam saja dan menunggu apa yang akan terjadi esok hari?"
"Kau tahu, terkadang diam itu menyesakkan. Sudahi saja perihmu, meski akhirnya tidak seperti yang kau harapkan. Karena cinta tidak melulu tentang bahagia."
Tak perlu menunggu hujan di luar sana. Di matanya hujan sudah berderai dari tadi. Kali ini ia tidak menahannya apalagi menyekanya. Biarkan saja. Biarkan saja sampai reda. Setelah itu ia akan berdamai dengan hatinya.
Senin, 20 April 2015
Kita sebaiknya begini dulu
![]() |
Aku perlahan-lahan mulai mundur. Tanpa disadari, sudah banyak ruang tersisa di antara kita. Kau tahu, aku banyak merenung akhir-akhir ini dan aku akhirnya berhenti pada satu kesimpulan--berjarak. Ya, sepertinya kita memang butuh ruang itu untuk menghirup udara yang telah mengisinya. Agar dada kita sama-sama plong, agar pikiran kita tidak lagi buntu.
Apa kau sempat mengira-ngira sejak kapan kita mulai seperti ini?
Aku tidak. Semua terjadi begitu saja. Tiba-tiba seperti ada yang hilang di sini atau mungkin juga di sana.
Kali ini berjarak bukan lagi soal angka ribuan atau ratusan mil, namun sepertinya lebih dari pada itu. Mungkin lebih tepatnya merelakan. Merelakan bahwa ada sesuatu yang telah lelah di antara kita.
Akhir-akhir ini aku banyak merenung dan belajar arti merelakan. Kita sebaiknya juga belajar untuk tidak lagi egois pada hati.
Kita sebaiknya menunggu, takdir apa yang akan terjadi pada kita kelak.
Selasa, 24 Maret 2015
Selasa, 11 November 2014
Rabu, 29 Oktober 2014
Senin, 17 Maret 2014
Senin, 13 Januari 2014
semoga bukan ucapan selamat tinggal
![]() |
Dear De,
Jogja akan selalu menunggumu. Entah kapan kamu ke sini. Dan meski tanpa ada aku, kamu pasti akan menikmatinya.
Jo.
Ada sesuatu yang menyesak di dadaku tiba-tiba. Aku merasa, kamu sudah tidak akan ada lagi di sana.
Label:
Kamu,
Letters to you,
Love Story,
Story,
Tears and Rain
Senin, 25 November 2013
Angkling Gendhing
Ini pertama kalinya aku datang ke kota ini. Kota yang kerap muncul dalam khayalanku. Kota yang sering kutelusuri pada mesin pencari google.
Jogjakarta, aku datang.
Pukul 13.20 WIB Pesawat Boeing 777-300ER miliknya Garuda Indonesia mendarat di Bandara Adi Sucipto, Jogjakarta. Membawa raga dan mimpi-mimpiku ikut serta di dalamnya. Dengan tergesa-gesa aku menyampirkan ranselku di punggung dan segera berlari menuruni tangga menuju pintu ke luar. Aku menjulurkan kepalaku di antara padatnya pengunjung hari itu—mencari-cari sebuah nama atau tulisan di antara kerumunan penunggu.
Wajahku langsung sumringah demi membaca sebuah tulisan yang dibold besar-besar berwarna biru langit. “WELCOME IN JOGJAKARTA, DE.” Seorang cowok berkacamata menyambutku dengan senyum lembutnya.
“Selamat Datang. Perkenalkan namaku Angkling Gendhing.” Ujarnya sembari mengulurkan tangan. Aku menyambutnya dengan antusias.
“Persiapkan dirimu!” katanya cepat.
“Eh?”
“Persiapkan dirimu untuk jatuh cinta pada kotaku.” Katanya sambil tertawa.
*****
Aku melihat cowok itu di depan meja kerjanya di sebuah gallery seni. Wajahnya tampak serius menggambar sesuatu di atas kertas. Ia berkali-kali memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit melorot, tak jarang ia juga menggigit-gigit pinsil di tangannya. Sementara di telinganya terpasang earphone yang tersambung pada ponsel di saku bajunya.
Mungkin dia sedang mendengarkan lagu miliknya Sheila On 7. Hahaha…
Aku memperhatikannya dengan seksama dari balik kaca jendela. Dia tidak menyadari meski sudah beberapa menit aku berdiri di depannya. Iseng aku mengarahkan lensa kameraku kepadanya. Membidiknya sekali. Dua kali. Sampai berkali-kali. Dia masih belum menyadarinya.
“Aku suka menggambar wajah-wajah orang yang tidakku tahu dimana tapi ingin ketemu dia terus diajak bercerita tentang langit, hutan, angin dan seekor liliput.”
Aku tertawa ketika dia bercerita padaku waktu itu. Nggak nyangka aja, ada juga ya cowok doyang ngayal kayak gitu. Biasanya cowok itu kan pikirannya realistis. Nggak suka yang aneh-aneh.
Tapi dia berbeda. Aku dan dia adalah dua orang asing yang bertemu di tengah jalan. Kami memiliki tujuan yang berbeda. Dia ke Utara. Aku ke Selatan. Meski saling memunggungi, kami tidak pernah mengucapkan selamat tinggal. Kami sering janjian bertemu di sebuah beranda, duduk menjuntai di bawah langit sembari bercerita banyak hal layaknya teman lama. Aku dan dia adalah sepasang kunang-kunang yang tersesat di siang hari. Saling mencari tahu, cerita apa saja yang akan dikisahkan hujan pada pelangi.
Aku tahu dia masih sangat asing bagiku. Tapi aku percaya, kami tidak akan saling menyakiti. Hanya saja, ada satu hal yang kadang menjadi pertanyaan besarku, “apa yang dia pikirkan tentangku?”
Seorang perempuan yang berani menempuh ribuan mil jarak hanya untuk bertemu dengannya. Seorang perempuan yang betah berlama-lama diceritakan perihal istimewanya Jogjakarta. Seseorang yang sangat percaya bahwa kami memiliki banyak kesamaan.
“Apa yang dia pikirkan tentangku?” Aku penasaran. Seperti penasarannya aku dengan apa yang sedang ia gambar saat ini.
*****
Cowok itu mengangkat kepalanya dari kertas yang disedari tadi dipelototinya. Dengan tersenyum ia melambaikan tangan menyuruhku masuk.
“Kamu sudah berapa lama berdiri di sana?” tanyanya cepat begitu aku masuk.
“Baru saja.” Jawabku berbohong.
“Sudah sarapan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk ragu-ragu.
“Kenapa?”
“Lidahku belum terbiasa dengan masakan Jawa.” Jawabku malu-malu. Dia tertawa.
“Dasar orang Padang!” katanya sambil meletakkan telunjuknya di keningku. Mukaku memerah.
“Udaaaah jangan ngambek gitu. Nanti kuajak makan ditempat yang enak. Tapi jangan ngarep masakan Padang ya. Selama di sini kamu harus membiasakan diri dengan kulinernya.”
Aku hanya mengangguk lesu.
“Ini!” katanya sambil meletakkan selembar kertas di tanganku.
“Apa ini?”
“Peta mencari harta karun.” Dia tertawa-tawa. Aku mencibir.
“Itu peta perjalananmu selama seminggu di Jogjakarta. Lihat tanda Start di sana. Kita akan memulainya hari ini dari titik Nol.” Aku memekik kegirangan dan melompat-lompat di depannya.
Lihat! Dia tahu bagaimana caranya membuat orang lain tersenyum dari pagi hari.
*****
Angkling Gendhing. Seorang cowok berbintang Aries. Dia memilih warna biru dalam hidupnya. Menyapa pagi dengan membuat orang lain tersenyum. Membaca semesta dengan hatinya.
Dia adalah pecinta sejati. Darah seni mengalir deras dalam nadinya. Tak pernah menganggap dirinya seorang penulis meski berlembar-lembar kisah ia dongengkan kepada malam. Tentang hujan. Tentang jari-jari sepeda yang berputar. Tentang daun-daun yang remuk terinjak pejalan kaki. Tentang apa saja yang ia lihat disekitarnya.
“Angkling Gendhing, apa artinya?” suatu hari aku pernah bertanya.
“Angkling Gendhing adalah suara perangkat gamelan yang mengalun seperti symphony. Sarat makna. Bapakku memberikanku nama itu, karena beliau ingin hadirku bisa berarti bagi semua orang.”
Aku tersenyum.
Angkling Gendhing. Seseorang yang suka melukis pelangi di wajahku bahkan pada saat berhujan sekalipun. Seseorang yang sedang berusaha menemukan titik di mana kunang-kunang berkerumun.
*****
“Angkling, terima kasih ya. Kamu sudah memperkenalkan Jogjakarta kepadaku. Sekarang aku semakin percaya akan keiistimewaannya. Terima kasih atas hari-hari yang menyenangkan itu.”
“Kamu tahu lagu Jogjakarta miliknya Kla Project, kan? Aku jamin kamu pasti ingin segera kembali setiap kali mendengarkan lagu itu.”
“Hahaha…I know.”
“Oh iya, aku punya sesuatu untukmu.” Dia mengeluarkan sebuah kertas yang sudah di laminating dari ransel dan menyerahkannya padaku.
Mataku berbinar demi melihat sebuah gambar yang berwarna di atasnya. a girl with backpack and camera
“Mirip tidak?” tanyanya was-was. Aku tertawa sambil menutup mulutku.
“Aku juga punya sesuatu untukmu. Tunggu.” Aku segera mengeluarkan sebuah foto dari dalam albumku. Dia menerimanya ragu-ragu. Wajahnya memerah seketika.
“Kamu?”
“Foto ini aku ambil dari balik jendela saat kamu menggambar. Wajahmu terlihat sangat jelek.” Kataku sambil tertawa. Dia juga.
Kami berpelukan sejenak sebelum melepaskan. Sebelum aku memunggunginya dan kembali ke kotaku.
“Apa kamu jatuh cinta, De?”
“Eh?” Dia berhenti sejenak—menatapku ragu-ragu. “Pada kotaku?” lanjutnya lagi.
Aku tersenyum lebar. “Kapan kau akan datang ke kotaku?” balasku bertanya. Ia hanya tersenyum sampai aku melambaikan tangan dan berlalu.
Senin, 28 Oktober 2013
Jika hal ini benar
so where is the passion when you need it the most.
oh, you and I.
You kick up the leaves and the magic is lost
--Daniel Powter
Jo.
Aku melihatmu lagi siang itu.
“Hai”. Sapamu sembari tersenyum. Dadaku bergemuruh hebat. Tanpa sadar, jemariku terulur begitu cepat.
“Apa kabar?” tanyaku basa-basi. Ya, tentu saja basa-basi. Jelas aku sudah tahu kabarmu. Berita tentangmu selalu kubaca setiap menit. Aku bahkan bisa mendeteksi kapan kau sedang tidak baik-baik saja. Hari itu, kulihat kau tampak bahagia.
“Aku baik. Kamu?” kamu balik bertanya.
Bagaimana aku menjawabnya? Bertemu dengamu membuat jantungku berdetak lebih dari normal. Kelenjar keringatku bertambah dua kali lipat. Aku merasa, ada kapas-kapas halus berterbangan di perutku.
“Sebenarnya aku baik-baik saja.” Jawabku asal. Kau tertawa sembari menampakkan gigi kelincimu yang besar itu.
“Oh ya? Tapi kok mukamu merah gitu? Kamu sakit?”
Wah, aku tidak siap dengan pertanyaan itu. Akhirnya aku hanya menjawabnya dengan tertawa balik. Tawa yang kedengarannya seperti Spongebob lagi ngeledekin Patrick. Kau hanya mengangguk-angguk sembari melambaikan tangan.
“Aku ke sana dulu ya?” pamitmu dan berlalu. Aku mengangguk sembari menatap langkahmu.
Aku melihatmu lagi siang itu. Kau tampak cantik dengan gaun biru itu. Sejak saat itu, senyumku tak henti-hentinya mengembang setiap kali mengingat kamu.
Kau tahu tidak? Saat jauh darimu, aku menemukan diriku dalam penantian. Jika hal ini benar, aku sedang jatuh cinta lagi padamu.
Kau tahu tidak? Saat jauh darimu, aku menemukan diriku dalam penantian. Jika hal ini benar, aku sedang jatuh cinta lagi padamu.
*****
De.
Zodiacku bilang, biru adalah warna keberuntunganku. Tanggal 17. Hari Jum’at. Juga menjadi simbol keberuntunganku.
Hari ini Jum’at tanggal 17 Mei 2013.
Aku sebenarnya bukan tipe cewek yang mudah percaya dengan ramalan bintang. Khususnya perihal cinta. Tidak ada yang salah dengan kisah cintaku. Aku pernah merasakan yang namanya berbunga-bunga ketika jatuh cinta. Aku bahkan pernah merasakan bagaimana jemari seseorang menggenggam tanganku ketika berjalan. Aku tahu rasanya.
Namun, aku sadar, langit biru juga bisa menjadi putih, merah, jingga, abu-abu bahkan hitam. Segala sesuatu berganti. Hidupku juga. Mulai membosankan akhir-akhir ini. Bukan hidup sih sebenarnya, hanya rutinitas yang memenatkan.
Aku ingin hal-hal baru memasuki hidupku. Seperti bertemu orang asing di jalanan. Saling melempar senyum dan memunguti jejak-jejak pengelana di depanku. Mungkin kami akan berjalan beriringan sampai perempatan sana. Setelahnya aku akan berbelok ke kanan. Dia, mungkin akan terus berjalan—seperti tujuan yang ia cari. Atau malah menyesatkan diri ke kiri, lalu berbelok entah kemana hingga bertemu jalan lain menuju pulang. Entahlah.
Aku ingin hal-hal baru memasuki hidupku. Seperti memakai gaun berwarna biru dan berkumpul dengan para ladies di sebuah coffee shop.
Aku bukan tipe cewek yang percaya dengan ramalan bintang. Bagiku, keberuntungan itu bukannya tanpa alasan. Iya. Bukan kita yang mendikte alasannya. Tapi Tuhan. Aku percaya bahwa keajaiban itu ada.
Seperti hari ini. Melihat kamu berdiri di depanku dengan muka memerah. Bertemu kamu seperti keajaiban ketujuh dalam hidupku.
Aku tahu, aku punya banyak perbendaharaan kata untuk kuutarakan padamu. Tapi bibirku gagu. Aku hanya bisa tertawa-tawa di depanmu. Seperti mendengar candaan Patrick pada Spongebob.
Kau cukup tahu aku kan? Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya berpisah tanpa meninggalkan sesak. Sebenarnya, hari itu aku ingin menggenggam jemarimu sekali lagi. Namun, aku tidak tahu bagaimana caranya meminta. Kau lagi-lagi hanya membiarkanku berjalan tanpa mengulurkan tangamu dan mencegahku berlalu.
Kau tahu tidak? Ada yang namanya rindu mengkristal. Menjadi debar-debar. Jika hal ini benar, aku sedang jatuh cinta lagi padamu.
*****
Jo and De.
Jika hal ini benar, kenapa kita tidak saling menemui? Mengubah debar-debar, menjadi indah sua.
Jika hal ini benar, sekali lagi kau berubah menjadi canduku. Apakah kita akan bertemu lain waktu? Apakah suatu saat, aku dan kamu tidak lagi peduli jarak dan waktu? Apakah satu saat, kita akan kembali percaya bahwa diri kita adalah setengah dari cumbu rayu yang akan selalu ada dalam kamus teori cinta yang kita rumuskan bersama?
Jika hal ini benar, aku sedang jatuh cinta lagi padamu.
Jumat, 11 Oktober 2013
Kau,kenapa?
![]() |
"Nus, makhluk itu datang lagi. Apa kabar dia sekarang?" --Dee. Perahu Kertas
Kau kenapa muncul lagi? Kenapa kehadiranmu membuat bulir di mataku berjatuhan? Kau tahu, aku sudah berhenti menangis sejak saat itu. Aku benar-benar berhenti. Bukankah kau yang menguras air mata ini sejak pergi? Aku benar-benar berhenti sejak saat itu.
Ada kereta datang. Aku baru saja melihatnya di ujung jalan. Aku baru ingin meninggalkan tempat perhentianku ketika jemarimu mencegat lenganku.
Kau kenapa muncul lagi?
"Aku merindukanmu."
Lalu kemana kau selama ini? Tidak tahukah, ada hujan badai menghampiri kota ini. Aku bertahan, terus bertahan menunggu kamu berpacu dengan waktu untuk melindungiku. Akan kumaafkan jika kau hanya terlambat beberapa jam saja. Tapi ini sudah lebih dari ratusan hari. Aku menggigil di sini. Tubuhku membeku. Kadang ketakutan menghantui. Kau kemana saja? Aku berharap kamu datang dari arah mana saja sambil membawa segelas susu panas dan selembar selimut tebal--lalu merengkuhkannya ke pundakku. Dimana kau saat itu?
"Aku sedang dalam perjalanan ketika itu. Sedang mengunjungi musim-musim yang tak kau temui di kota ini. Aku ingin mengabadikannya ke dalam toples kaca yang sudah kau persiapkan dulu. Oh, aroma musim apa yang paling kau suka? Autumn ya?"
"Maafkan telah membuatmu menunggu begitu lama. Aku hanya sedang bersembunyi dan mempersiapkan sebuah cerita untukmu. Kau kan selalu suka dengan cerita perjalananku? Katamu, kau seperti terbawa serta. Kau masih percaya tidak, aku selalu ingin membagi mimpi-mimpiku denganmu. Tak perduli mimpi itu berwujud nyata atau tidak. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa selalu ada kamu di dalam mimpi-mimpi itu. Masih percaya tidak?"
Aku...ingin berhenti percaya.
"Tidak bisakah kau memaafkanku?"
Aku tidak pernah menyalahkan siapapun. Bahkan kepada jarak dan waktu yang telah menjauhkanmu pun, aku tidak menaruh dendam. Aku hanya tidak ingin memberi kesempatan lagi kepada luka.
"Maafkan aku!"
Berhentilah memohon. Aku takut luka diam-diam menyergapku dari belakang. Tolong, berhentilah.
"....do you remember at all? People walkin' hand in hand. Can we feel that love again? Can you imagine it all? If we all could get along, then we all could sing this song together."
Kau kenapa selalu membuat hujan di mataku? Kau kenapa muncul lagi? Tidak bisakah pergi saja, tanpa kembali?
...dan kenapa membawa luka di ranselmu itu?
Senin, 02 September 2013
Pada Suatu Hari, Semua Akan Berhenti
Pada suatu hari,
aku pernah lelah dengan aktifitas dan ingin melarikan diri ke suatu tempat
dimana tidak ada penat di sana.
Lalu aku
mengkhayalkan rumah masa depanku. Rumah kayu bercat cokelat mengkilat di sebuah
tepian danau. Berandanya terbuat dari kayu pula—tertata rapi sampai menyentuh
bibir danau. Ada dua buah kursi malas di atasnya dengan satu meja pendek
berdiri tak jauh diantaranya.
Danau itu
berkabut ketika pagi dan sore hari. Sementara di siang hari, airnya mengilap
seperti ribuan mutiara tercecer. Setiap pagi aku membuka pintu jendela dengan
perasaan damai. Lalu akan berdiri di sana beberapa saat sampai perutku mulai
keroncongan minta diisi. Ada beberapa helai roti tawar di dapur. Setelah mandi
aku akan memanggang dan mengoleskannya dengan selai cokelat kacang kesukaanku. Segelas
teh hangat dalam mug besar bolehlah kubawa ke halaman untuk menemaniku membaca
sampai matahari meninggi.
Saat matahari
meninggi, aku akan masuk ke dalam rumah lalu naik ke loteng. Dari sana, aku
bisa memandang orang-orang sedang mangayuh cano di tengah-tengah danau. Dalam
hati aku bertanya, “ada ya manusia kurang kerjaan bermain air di bawah terik
seperti siang ini?” Lalu pada suatu siang lainnya, tetangga sebelah mengajakku
melakukan hal yang sama—mengayuh cano. Awalnya aku merasa berat hati. Bukan
karena takut kulitku menjadi gelap, namun aku takut demam, karena panas
matahari siang selalu membuat kepalaku pusing. Mereka bilang, semua orang di
sana akan bermain cano pada siang hari. Kalau aku ingin hari-hariku tidak membosankan,
aku harus ikut serta. Aku merasa tak enak. Sebagai pendatang baru, aku ingin
membaurkan diri dengan mereka. Aku ingin mereka tahu, aku jatuh cinta pada
tempat ini.
Hari itu, aku
ikut bergabung bersama mereka. Bermain air—berlomba-lomba mengayuh cano
ketengah-tengah. Setelah itu bermain jet
sky dan banana boat. Mereka
benar, aktifitas itu sangat menyenangkan.
Sore hari, saat
matahari mulai turun, kami berhenti bercengkrama di dermaga dan kembali ke
rumah masing-masing sambil melambaikan tangan.
Aku mengganti
bajuku dengan piyama dan melampisinya dengan sweater di luar. Teh hangat dalam
mug besarpun kembali menemaniku di beranda. Kali ini aku meninggalkan buku
bacaanku di dalam. Sore hari aku hanya ingin duduk-duduk di beranda sambil
memandang jauh ke depan—di telingaku mengalun lagu-lagu cozy miliknya Aditya
Sofyan.
Malam hari, aku
akan masuk ke dalam dan menyalakan lampion-lampion kecil yang tergantung di
pintu depan. Aku menanggalkan earphoneku dan menyalakan radio mungil di meja
dapur sembari menyantap makan malam yang kubuat secara instan. Aku akan
beranjak pukul 10 malam ke bawah selimutku dan mulai mengkhayalkan perjalanan
piknikku ke atas bukit berbunga di ujung danau ini esok hari.
Itulah rumah masa
depanku, dengan aktifitas yang sangat kusukai. Waktu itu aku masih sangat
menikmati hidupku seorang diri.
Lalu pada suatu
hari kau datang. Kau bilang ingin berada di sana juga. Aku tersenyum. Maksudmu kau
ingin mampir ke rumahku? Kau jawab tidak. “Aku ingin masuk ke dalam
hari-harimu.” Itu jawabmu. Setelah itu, kita mulai merencanakan aktifitas kita
setiap hari di sana.
Kau bilang, kau
akan bangun lebih dulu setiap pagi. Lalu membuka semua jendela biar sejuknya
udara bisa masuk ke dalam rumah.
“Aku akan
kedinginan, dong?” kataku padamu. Kau tersenyum, lalu menggeleng cepat.
“Aku akan
menaikkan selimut tanpa membangunkanmu. Aku tidak ingin mengusik
mimpi-mimpimu.” Aku melambung. Begitu romantisnya jawabanmu.
Kau bilang, kau
akan lari pagi menuju dermaga. “Meski sedikit berkabut, dari sana rumah kita
terlihat sangat indah.”
Aku tersenyum.
“Rumah kita?” Betapa indahnya suatu hari itu.
Kau menggeser dua
kursi malas itu agak ke tengah, lalu melemparkan kail ke dalam air. Katamu,
“duduk di sini. Kita habiskan waktu dengan memancing dan bercerita banyak hal.”
Aku mendekat, dengan seember air bersih ditangan. Dengan lembut, aku meletakkan
topi bundar ke atas kepalamu. Kau tersenyum sambil menggandeng tanganku duduk.
Suatu hari,
berpuluh tahun kemudian, kau masih duduk di sana dengan topi bundar dan
pancinganmu. Rambutmu memutih, kacamatamu beberapa kali merosot di hidungmu. Aku
tertawa memperhatikanmu dari balik jendela dapur. Air dalam ketelku belum
mendidih. Aku terpaksa meninggalkanmu agak lama di luar sana.
Di atas meja, aku
sudah menyiapkan 2 mug besar untuk diisi dengan teh. Satu mangkok bubur ayam
juga sudah siap diangkat—untuk kita santap bersama.
Aku
memperhatikanmu dengan penuh cinta dari balik kaca. Kuusapkan telunjukku
padanya dengan air mata tergenang. Betapa bahagianya aku pada suatu hari itu.
Kau dan aku hidup bersama, sampai hari esok dan esoknya lagi. Ya, pada suatu
hari nanti itu.
Lalu suatu hari,
rumah masa depanku menghilang seiring memudarnya lelah. Aku tak mampu mengkhayalkan
apa-apa lagi setelah itu. Semuanya mengabur begitu saja.
Pada suatu hari,
harapmu berhenti padaku. Kau merusak rencana-rencana indah yang sempat membuku
dalam pikiranku. Kau merobeknya satu persatu, lalu pergi. Aku menangis—terisak.
Tidak ada lagi
rumah masa depan. Tidak ada lagi “kita” suatu hari nanti. Yang ada kau dan dia
atau aku saja.
Aku menangis
berhari-hari sampai mataku sembab. Benar, aku tidak penat lagi dengan
rutinitas. Tapi hatiku lelah bertubi-tubi. Rasanya seperti remuk redam. Aku
berjalan dengan kepenatan lain.
Aku akhirnya pasrah
membiarkan rumah masa depanku menghilang secara perlahan. Aku sadar, rumah itu
terlalu sempurna untukku. Lalu aku memilih menghabiskan lelahku dalam sebuah
keriuhan di pasar tradisional di pinggiran kota. Sebuah kamera lomo milikku,
akan setia mengabadikan berbagai kehidupan di sepanjang jalan itu. Kemudian aku
akan mengayuh sepedaku menuju pesisir pantai, pada sore hari yang dihiasi golden sunset. Di beberapa tempat, aku
akan berhenti untuk mengabadikan beberapa objek yang menarik. Menjelang senja aku akan pulang dengan setumpuk
gambar dalam kameraku. Setidaknya, bisa mengalihkan sedihku setelah kau
tinggalkan.
“Kau tidak akan
berharap ikut lagi bersamaku, kan?” Atau malah sebaliknya?” Kau mengikutiku
dari belakang, lalu mengambil gambarku secara diam-diam dan menyimpannya
untukmu saja. Seperti yang biasa kau lakukan, kan?
“Kau masih
egoiskah?”
Aku tidak tahu
lagi apa yang kau lakukan setelah hari itu. Setelah kau menyerah dengan jarak. Aku
lelah. Mereka-reka apa yang kau pikirkan membuat batinku lelah.
Aku sadar, pada
suatu hari semuanya akan berhenti. Kau akan berhenti berkata-kata. Kau akan
berhenti menaruh janji di kelingkingku. Kau akan berhenti di suatu simpang,
lalu menyuruhku berjalan ke jalan yang satu, sementara kau ke arah yang
lainnya. Pada suatu hari kau berhenti mengatakan, “I wish here” dan
membiarkanku menangis sendirian dalam gelap.
Aku sadar, pada
suatu hari aku juga harus berhenti. Berhenti mengatakan bahwa aku baik-baik
saja setelah kamu pergi, sementara semua orang tahu, aku hancur. Tapi aku tetap
harus berhenti, kan? Berhenti memikirkanmu—menunggu kamu kembali. Aku juga
harus berhenti berharap, bahwa kamu akan bertanya sesekali bagaimana kabarku. Aku
harus berhenti menatap punggungmu yang mengatakan selamat tinggal.
Iya. Aku akan
berhenti. Kamu akan berhenti. Pada suatu hari semuanya akan berhenti.
Selamat tinggal
suatu hari denganmu.
Padang, 30
Agustus 2013.
Pukul 1:59 WIB.
Picture from weheartit.
Selasa, 27 Agustus 2013
Mungkin Memang Harus Kamu
...khayalan ini menjadi nyata, di kala kisah cinta menyapa,tepat pada waktunya
"Ini." Katamu pada sore yang berkabut itu. Anak-anak rambutmu berserakan dipelipis. Kau mengabaikannya. Aku malah ingin menyentuh dan menepikannya. Biar aku bisa menatap teduh matamu yang belakangan seperti kehilangan harapan.
"Apa ini?" tanyaku bingung. Ditangamu tergengenggam setumpuk pasir yang sedikit basah. Baru saja, ombak menjilatinya dibawah kakimu. Aku melihatmu memungutnya sedemikian rupa. Aku mereka-reka, untuk apa kau berikan setumpuk pasir itu padaku?
"Anggap saja ini hatiku yang ingin kutitipkan padamu."
"Eh?" Kau mengangsurkan genggamanmu begitu dekat. Beberapa tumpuk lagi terjatuh dari genggamanmu. Kau menatapnya sedih. Sebenarnya, aku yang lebih sedih lagi menatap kau begini.
*****
penunjuk mata anginku.
menuju utara, ataupun tenggara,
bersamamu kupercaya
Kita baru bertemu 2 hari yang lalu. Di sini, tanpa sengaja. Kau menyapaku yang tengah menikmati pemandangan manusia di jalan Malioboro. Waktu itu aku sedang menyantap semangkok bakso secara perlahan. Aku saat itu sedang berbahagia menikmati waktu liburanku, sementara kau kulihat tampak babak belur.
"Apa yang terjadi padamu?" kutanyakan padamu waktu itu. Kau bilang, kau sedang melarikan diri. Tanpa sungkan, kau bercerita banyak tentang perjalananmu. Kau ternyata sedang patah hati.
"Aku pulang untuk melamarnya, tapi dia malah meninggalkanku." katamu pilu. Aku tidak berkata apa-apa waktu itu, hanya hatiku sedikit berbisik, "mungkin dia bukan jodohmu."
Kau larut dalam sedihmu hari itu, dengan aku di sampingmu yang tengah berbahagia menyantap baksoku dengan lahap.
*****
syukurlah kali ini cinta,
berjalan dengan mudahnya,
mungkin saja kamu,
mungkin hanya kamu,
mungkin memang harus kamu, Jodohku...
"Ini." Ulangmu lagi. Aku menatap matamu bimbang. Bagaimana kau bisa percaya aku akan menjaganya dengan baik? Bagaimana kau bisa percaya aku tidak akan membuatnya berceceran lagi.
"Aku tidak tahu bagaimana. Yang aku tahu, aku ingin mempercayai seseorang saja. Entah bagaimana, langkah ini membawaku padamu."
"Ini." katamu sambil menumpahkannya ke dalam talapak tanganku. Dibawahnya tanganmu ikut mengembang, melindungi celah-celah yang menganga.
"Bolehkah untukku saja?"
"Eh?"
"Hatimu. Kau bilang hanya dititipi. Bolehkah untukku saja? Biar jemariku tidak terasa hampa bila kau ambil lagi." tanyaku lirih.
"Sebenarnya, hatiku memang untukmu. Untuk diletakkan dalam genggamanmu. Untuk kau simpan selamanya." jawabmu meyakinkanku.
Hari ini, aku melihat kabut menepi dari matamu. Aku bisa melihat pantulan wajahku di sana. Kau tampak bahagia menemukanku. Aku bahkan lebih daripada itu.
Love like a sunshine in the morning,
love now I'm sure this feeling
I love you, you love me, we're in love
You are the love
Lirik By. Tangga
Langganan:
Postingan (Atom)








.jpg)
.jpg)

.jpg)





