Senin, 22 Februari 2010

Bisik Ku Pada Hujan

 

ketika kau entah dimana
tak lelah ku bisikkan salam rindu di setiap saat
pada bintang, pada malam, pada burung-burung
dan pada semilir sang bayu yang berlalu lalang di sekitar ku
ku bisikkan lembut, penuh ujaran yang terasa manis
apa kau menerimanya?
lama ku tunggu ribuan detik
tak juga ku terima balasan mu
apa kau ingkar? atau memang sang kurir mengabaikan pinta ku
Ugh, aku tak percaya lagi pada mereka
hanya membuang bait-bait yang tersusun indah untuk mu

dan, pada akhirnya hujanlah yang menjadi titipan ku
hujan, sampaikan resah ku padanya

4 komentar:

loopdreamer mengatakan...

berharap pada hujan, berharap pada derai... hmmmm mungkin nanti akan sedikit menyakitkan, karena hujan tak selalu datang memberi penyejuk, terkadang menyelipkan tangis diantara rintiknya... semoga bukan kesedihan yang tersampaikan...hehehehe... ngaco ya ngomongnya... btw very nice poem :)

Wiwit mengatakan...

@ loopdreamer :
nggak ngaco kok. hujan memang tidak selalu memberi penyejuk tapi hujan bisa mengaburkan air mata dan melepaskan sesak didada. dalam hujan kita bisa berteriak tentang apa saja, tak terkecuali tentang keresahan

anak nelayan mengatakan...

artikelnya keren sob

Wiwit mengatakan...

@ Anak nelayan :
makasih, sob