Kamis, 10 Desember 2015

Harapan





tidak muluk-muluk, Tuhan,
hanya terus dekatkan langkahku kepada-Mu.






Rabu, 25 November 2015

dan kamu



kau datang dengan cara berbeda,
senyap,
nyaris tak berasa,
lalu perlahan terlihat hingga aku mampu merasakan hadirmu,
tak berapa lama kau pun pergi,
dengan hening,
hingga mencabut paksa semua rasa yang aku punya,
kau meninggalkan perih,
sesak,
dan kosong,
aku tahu, aku sekarat,
namun tidak mati,

ya, lihat saja, esok aku akan berdiri lagi,
dan siap untuk jatuh cinta lagi,


mungkin,
padamu,
lagi.







Senin, 16 November 2015

kau tahu, aku ingin tahu

aku tahu kau di sana,
hampir setiap menit,
namun kau hanya membisu,
entah apa yang terjadi denganmu,
aku tidak tahu,
ketidaktahuanku kadang membuatku cemburu pada duniamu,
aku berusaha mengerti,
namun kau mencegahku untuk peduli,
dan kau pun perlahan berhenti,



namun aku tak bisa berhenti.






Kamis, 13 Agustus 2015

Jogjakarta (akhirnya)

.....akhir Mei 2015

Aku tiba-tiba terjaga ketika merasakan pesawat yang kutumpangi melindas awan padat di bawah sana. Aku mengusap kepalaku yang terantuk lalu melirik pada jam tangan sembari berpikir, sudah berapa lama aku tertidur.

Pukul sebelas lewat empat menit kala itu. Artinya aku sudah tertidur selama 1 jam sejak pantatku mendarat mulus di bangku paling pojok. Rasa-rasanya aku juga melewatkan snack yang diberikan Pramugari. Masih ada waktu 15 menit lagi sebelum akhirnya kakiku benar-benar mendarat di Kota itu.

Aku mengarahkan pandanganku ke luar sembari menguyah roti yang dibekalkan Nona Pramugari. Tidak ada apa-apa di luar sana. Hanya bayangan putih seperti asap. Aku baru tersadar, kami sedang berada di dalam awan dan melindas bongkahan es. Entahlah, tiba-tiba aku memikirkan Kumulonimbus. Aku melirik penumpang di sampingku. Lagi-lagi aku baru tersadar, ia sedang merapalkan doa-doa sejak tadi. 

Tanganku bergerak cepat menghidupkan kamera yang tergantung di leherku lalu menghidupkan tombol ON kemudian merekam kejadian di luar sana. Entah awan apa yang sedang kami masuki ini, tapi sepertinya memang tidak enak berada di dalam sana. Agak sedikit terlambat sih, tapi aku sempat mengabadikan momen itu sampai akhirnya aku melihat sebuah garis di lurus di bawah sana lama kelamaan menjadi jelas dan rumah penduduk menjadi semakin kelihatan. 

Aku tersenyum sekilas, mungkinkah itu Pantai Selatan? Dadaku bergemuruh tiba-tiba. Ada sengatan yang memacu adrenalinku untuk segera turun dan berlari ke luar sana. 

Pesawat akhirnya mendarat dengan mulus tepat pukul 11:20 di Bandara Adi Sucipto. Aku menyabarkan hatiku untuk tak terburu-buru meski rasanya ingin meledak melihat orang-orang di depan sana bergerak lambat. Sudahlah, aku di sini akhirnya. Ucapan selamat datang menyapaku dengan ramah. Aku berkali-kali mengabadikannya dengan tak henti mengembangkan senyum. Ransel di punggungku seolah ringan meski kini langkahku mulai dipercepat. Tidak sabar ke luar dan merasakan ramahnya Kota Gudeg. 

Di depan pintu, aku agak sedikit kecewa. Tidak ada ucapan selamat datang di sana dengan kertas besar-besar. Padahal aku sudah mewanti-wantinya untuk menyambutku di sana. Namun melihat senyuman dan lengannya yang mengembang, aku tak memperdulikan lagi dengan tulisan itu. Segera aku memburunya dan menyeruak ke dalam pelukannya.

"Welcome to Jogja, De." bisiknya sembari tertawa.

Iya. Akhirnya aku di sini. Datang ke Kotamu. 

Jogjakarta.





Percakapan Hati



Sudah satu jam ia duduk di dekat jendela itu. Memandang ke luar dari tingkap yang terbuka pada pepohonan yang mulai meranggas di halaman. Mendung luruh di wajahnya. Namun ia tetap tenang meski badai berkecamuk di dadanya. 

Ada yang tidak biasa dari tenangnya kali. Tenang yang dipaksakan. Tenang dengan kekosongan. 

Ia mencoba menarik bibirnya berkali-kali. Memaksanya membentuk sebuah senyuman. Berharap senyum itu tidak pergi begitu saja dengan mudahnya. 

"Apa yang salah perihal semalam?" tanya batinnya berontak. Pertanyaan yang sama sudah berkali-kali ia lontarkan namun tak bertemu jawaban yang melegakan.

"Tidak ada yang salah." Bibirnya mencoba menenangkan meski ia tahu, itu hanya kebohongan belaka. 

"Aku akan baik-baik saja." bisiknya lirih. "Kau tidak bisa memaksa seseorang memberimu bahagia jika kau tidak bisa membahagiakan dirimu sendiri, kan?"

"Apa kau perlu memelihara perih hanya karena egois?" batinnya bertanya lagi.

"Kadang memang perlu, kan?" jawabnya putus asa. 

"Tidak. Tidak perlu. Kau harus berdamai denganku. Aku yang harus kau ikuti ketika kau merasa putus asa. Aku yang akan menunjukimu jalan." bujuk hatinya lembut.

"Lalu, kau akan mengajakku kemana?"

"Pejamkan matamu. Aku akan membawamu kepadanya. Kepada debar yang kau rasa ketika bertemu dengannya pertama kali. Kepada senyum yang tak perlu kau tarik paksa saat ia berkata-kata. Kepada bahagia yang tak bisa kau sembunyikan meski hanya diam duduk bersamanya. Kau hanya perlu mengingatnya. Dengan begitu kau akan tahu, perasaanmu belum habis."

"Lalu apa yang harus kulakukan?" kali ini ia mulai terisak.

"Bilang padanya. Kau hanya perlu jujur. Perihal ia mengacuhkanmu, biarkan saja. Kau hanya perlu melegakan dirimu sendiri. Setelah itu, kau bisa menikmati bahagiamu sendiri."

"Apa ia akan mendengarkan?"

"Entahlah. Aku tidak bisa menjamin. Tapi semoga saja."

"Tak bisakah tetap diam saja dan menunggu apa yang akan terjadi esok hari?"

"Kau tahu, terkadang diam itu menyesakkan. Sudahi saja perihmu, meski akhirnya tidak seperti yang kau harapkan. Karena cinta tidak melulu tentang bahagia."

Tak perlu menunggu hujan di luar sana. Di matanya hujan sudah berderai dari tadi. Kali ini ia tidak menahannya apalagi menyekanya. Biarkan saja. Biarkan saja sampai reda. Setelah itu ia akan berdamai dengan hatinya.


Senin, 20 April 2015

Kita sebaiknya begini dulu


Aku perlahan-lahan mulai mundur. Tanpa disadari, sudah banyak ruang tersisa di antara kita. Kau tahu, aku banyak merenung akhir-akhir ini dan aku akhirnya berhenti pada satu kesimpulan--berjarak. Ya, sepertinya kita memang butuh ruang itu untuk menghirup udara yang telah mengisinya. Agar dada kita sama-sama plong, agar pikiran kita tidak lagi buntu. 

Apa kau sempat mengira-ngira sejak kapan kita mulai seperti ini?

Aku tidak. Semua terjadi begitu saja. Tiba-tiba seperti ada yang hilang di sini atau mungkin juga di sana. 

Kali ini berjarak bukan lagi soal angka ribuan atau ratusan mil, namun sepertinya lebih dari pada itu. Mungkin lebih tepatnya merelakan. Merelakan bahwa ada sesuatu yang telah lelah di antara kita.

Akhir-akhir ini aku banyak merenung dan belajar arti merelakan. Kita sebaiknya juga belajar untuk tidak lagi egois pada hati. 

Kita sebaiknya menunggu, takdir apa yang akan terjadi pada kita kelak.



Selasa, 24 Maret 2015

Jangan bertanya

"Kapan pulang?"

Entah sudah berapa lama dan entah sejak kapan aku tidak pernah lagi bertanya. Kepadamu, pun kepada orang-orang yang berjauh dariku.

Aku tidak tahu.

Terus terang aku lelah dan aku tidak tahu harus berbuat apa.

Aku bahkan tak lagi bisa mempercayai hatiku bergerak ke siapa.